Malam
menghanyutkan kesadaran, diselimuti gelap yang merangkak menutup segala yang
terlihat kemudian jiwa terombang-ambing dalam abstraknya mimpi mana kenyataan
mana ilusi. Seorang pemuda tertidur di atas pangkuan kasur yang tidak begitu
empuk, bantal yang sudah lusuh, bau dan bercorak tak wajar membantunya
merangkai mimpi. Kemudian..
Isak
tangis terdengar. Siapa gerangan ditengah malam yang sunyi dan sepi menangis,
padahal yang lain sedang tidur dan bersenang-senang. Tangan kiri merungkuk
rintih tangisnya tak terbendung lagi, ia sudah lama menahan gejolak dalam
dirinya menerima segala cemoohan, diskriminasi dan penghakiman antara baik dan
buruk, sopan dan tidak sopan. Si tangan kanan yang sedang asik melambai-lambai
dalam mimpi pun tak sanggup lagi menutupi apa yang sebenarnya terjadi, ia
sadar, tak sanggup lagi pura-pura bodoh dan pura-pura tidak tahu ada sesuatu
yang terjadi, lalu..
"Apa
yang menyebabkan mu menangis?" tanya tangan kanan. Tangan kiri mencoba
terlihat tegar dan baik-baik saja sambil mengusap air matanya
"Ayo,
ceritakan?" kemudian.
"Apakah
kamu merasakan ada yang salah pada diriku?" tangan kiri balik tanya
"Tidak"
jawab tangan kanan. Tak lama kemudian
"Iya"
jawabnya lagi, tangan kanan tak sanggup lagi menenangkan diri kalau tidak ada
sesuatu yang terjadi pada tangan kiri, tak sanggup acuh dan tak peduli lagi, ia
sudah lama merasakan, sudah lama tahu, sudah lama mendengar tapi lebih memilih
diam.
"Kita
diciptakan untuk saling melengkapi, bukan?". Tangan kanan memanggut
"Tapi
kenapa, aku selalu didiskriminasi oleh mereka? Makan tangan kanan, minum tangan
kanan, menulis tangan kanan, bersalaman tangan kanan semua yang baik harus
tangan kanan, sedangkan aku hanya diperhitungkan untuk hal-hal yang jorok.
Cebok, masturbasi.. Apa yang salah pada diriku?". Tangan kanan tak mampu
menjawab.
"Lalu
bagaimana jika majikan tubuh ini kidal? Apa ia berhak dikatakan tidak sopan
karena segala sesuatu ia lakukan dengan tangan kiri sedangkan ia terlahir
kidal?......sebenarnya siapa yang menciptakan perbedaan ini? Apa
maksudnya?" tangan kiri masih menggebu mengungkapkan isi hatinya
"Padahal
kita selalu saling melengkapi, kala kau gatal aku garuk, kala aku terluka kau
basuh lukaku dengan air, kala beban yang kau angkat terlalu berat bagimu, aku
bantu, bahkan ketika tubuh ini berdoa aku ikut bersamamu memohon".
“Kau
lihat para musisi? Lanjutnya.
“Bagaimana
kita bisa memainkan nada yang menghipnotis jutaan pasang telinga kalau kau dan
aku tidak bekerjasama, mereka hanyut dalam lantunan irama yang kita mainkan
bahkan mereka bisa terinspirasi, terisak-isak dan menggila. Tapi lihat yang
terjadi pada diriku? Mereka tak pernah memandangku, selalu saja tangan kiri
menjadi hal yang tidak sopan, paling tidak pantas”.
Tangan
kiri terdiam sejenak, tangan kanan mencoba menjawab tapi terlihat ragu untuk
mengungkapkannya. Kemudian
“Kita
hanya sebuah ciptaan, aku tidak pernah memilih untuk jadi tangan kanan saat
diciptakan, kau pun sama, apa kau pernah memilih?”. Tangan kiri terdiam.
“Kalau
aku berada diposisi mu, aku pun akan mengeluh sama sepertimu, tapi apa daya
kita hanya bagian dari ciptaan.”
“Berarti
kau lebih beruntung dari aku?” sambung tangan kiri melas
“Mungkin
iya, mungkin tidak?”
“Kenapa?”
“Aku
tidak tahu, tanyakan saja langsung kepada Sang Pencipta, aku tidak pernah
tahu”.
Mereka
hanyut dalam ketidaktahuan, ketidakpahaman, kebodohan dan ketidakmampuan mereka
memahami apa yang terjadi dan yang akan terjadi. Mereka terlalu kerdil, bodoh,
tolol untuk bisa memahami isi pikiran Sang Pencipta. Siapa yang bisa membaca
pikiran-Nya. Kemudian.....
“Kau
tahu paku?” tanya tangan kanan. Tangan
kiri memanggut. Dengan nada rendah ia melanjutkan.
“Apakah
ia memilih untuk diciptakan sebagai paku, terpendam di kedalam yang gelap
segelap-gelapnya, sempit, tak berudara, ia tak bisa apa-apa jika sudah berada
di sana, tidak hanya sehari atau dua hari, puluhan bahkan beraratus-ratus tahun
ia akan terpendam di sana, bahkan untuk hal yang menyengsarakan itu ia harus
ditempa dengan palu sekencang-kencangnya sampai yang tersisa hanya kepala. Kau
bisa bayangkan seperti apa nasibnya?”
“Tidak”
jawab tangan kiri
“Kita
hanya ciptaan, teman. Apapun nasib kita dan seperti apa nantinya Sang
Pencipta-lah yang berkuasa atasnya.
“Teman”
tangan kanan lebih merendahkan lagi suaranya
“Sang
Pencipta-lah yang masih harus kita cari.... kita dan majikan tubuh ini, kita
dekati terus sampai kita benar-benar dekat dan tak perlu bertanya, kemudian
berserah seserah-serahnya, seserah-serahnya sampai yang paling serah. Kemudian
berserah lagi dan lagi. Terus berserah, terus dan terus..........
Ayam
jago berkokok mengantar fajar terbit di ufuk timur, lentera malam meredup
dikalahkan sumber segala energi, sang matahari. Tak ada lagi percakapan, tak
ada lagi keluhan. Terlihat dari balik jendela tangan kanan dan tangan kiri saling
membantu membersih tubuh sang majikan.
Fikry,
Ciputat
290616

Tidak ada komentar:
Posting Komentar