Rabu, 29 Juni 2016

Kisah Tangan Kanan dan Tangan Kiri



Malam menghanyutkan kesadaran, diselimuti gelap yang merangkak menutup segala yang terlihat kemudian jiwa terombang-ambing dalam abstraknya mimpi mana kenyataan mana ilusi. Seorang pemuda tertidur di atas pangkuan kasur yang tidak begitu empuk, bantal yang sudah lusuh, bau dan bercorak tak wajar membantunya merangkai mimpi. Kemudian..

Isak tangis terdengar. Siapa gerangan ditengah malam yang sunyi dan sepi menangis, padahal yang lain sedang tidur dan bersenang-senang. Tangan kiri merungkuk rintih tangisnya tak terbendung lagi, ia sudah lama menahan gejolak dalam dirinya menerima segala cemoohan, diskriminasi dan penghakiman antara baik dan buruk, sopan dan tidak sopan. Si tangan kanan yang sedang asik melambai-lambai dalam mimpi pun tak sanggup lagi menutupi apa yang sebenarnya terjadi, ia sadar, tak sanggup lagi pura-pura bodoh dan pura-pura tidak tahu ada sesuatu yang terjadi, lalu..

"Apa yang menyebabkan mu menangis?" tanya tangan kanan. Tangan kiri mencoba terlihat tegar dan baik-baik saja sambil mengusap air matanya

"Ayo, ceritakan?" kemudian.

"Apakah kamu merasakan ada yang salah pada diriku?" tangan kiri balik tanya

"Tidak" jawab tangan kanan. Tak lama kemudian

"Iya" jawabnya lagi, tangan kanan tak sanggup lagi menenangkan diri kalau tidak ada sesuatu yang terjadi pada tangan kiri, tak sanggup acuh dan tak peduli lagi, ia sudah lama merasakan, sudah lama tahu, sudah lama mendengar tapi lebih memilih diam.

"Kita diciptakan untuk saling melengkapi, bukan?". Tangan kanan memanggut

"Tapi kenapa, aku selalu didiskriminasi oleh mereka? Makan tangan kanan, minum tangan kanan, menulis tangan kanan, bersalaman tangan kanan semua yang baik harus tangan kanan, sedangkan aku hanya diperhitungkan untuk hal-hal yang jorok. Cebok, masturbasi.. Apa yang salah pada diriku?". Tangan kanan tak mampu menjawab.

"Lalu bagaimana jika majikan tubuh ini kidal? Apa ia berhak dikatakan tidak sopan karena segala sesuatu ia lakukan dengan tangan kiri sedangkan ia terlahir kidal?......sebenarnya siapa yang menciptakan perbedaan ini? Apa maksudnya?" tangan kiri masih menggebu mengungkapkan isi hatinya

"Padahal kita selalu saling melengkapi, kala kau gatal aku garuk, kala aku terluka kau basuh lukaku dengan air, kala beban yang kau angkat terlalu berat bagimu, aku bantu, bahkan ketika tubuh ini berdoa aku ikut bersamamu memohon".

“Kau lihat para musisi? Lanjutnya.

“Bagaimana kita bisa memainkan nada yang menghipnotis jutaan pasang telinga kalau kau dan aku tidak bekerjasama, mereka hanyut dalam lantunan irama yang kita mainkan bahkan mereka bisa terinspirasi, terisak-isak dan menggila. Tapi lihat yang terjadi pada diriku? Mereka tak pernah memandangku, selalu saja tangan kiri menjadi hal yang tidak sopan, paling tidak pantas”.
Tangan kiri terdiam sejenak, tangan kanan mencoba menjawab tapi terlihat ragu untuk mengungkapkannya. Kemudian

“Kita hanya sebuah ciptaan, aku tidak pernah memilih untuk jadi tangan kanan saat diciptakan, kau pun sama, apa kau pernah memilih?”. Tangan kiri terdiam.

“Kalau aku berada diposisi mu, aku pun akan mengeluh sama sepertimu, tapi apa daya kita hanya bagian dari ciptaan.”

“Berarti kau lebih beruntung dari aku?” sambung tangan kiri melas

“Mungkin iya, mungkin tidak?”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu, tanyakan saja langsung kepada Sang Pencipta, aku tidak pernah tahu”.

Mereka hanyut dalam ketidaktahuan, ketidakpahaman, kebodohan dan ketidakmampuan mereka memahami apa yang terjadi dan yang akan terjadi. Mereka terlalu kerdil, bodoh, tolol untuk bisa memahami isi pikiran Sang Pencipta. Siapa yang bisa membaca pikiran-Nya. Kemudian.....

“Kau tahu paku?” tanya tangan kanan.  Tangan kiri memanggut. Dengan nada rendah ia melanjutkan.

“Apakah ia memilih untuk diciptakan sebagai paku, terpendam di kedalam yang gelap segelap-gelapnya, sempit, tak berudara, ia tak bisa apa-apa jika sudah berada di sana, tidak hanya sehari atau dua hari, puluhan bahkan beraratus-ratus tahun ia akan terpendam di sana, bahkan untuk hal yang menyengsarakan itu ia harus ditempa dengan palu sekencang-kencangnya sampai yang tersisa hanya kepala. Kau bisa bayangkan seperti apa nasibnya?”

“Tidak” jawab tangan kiri

“Kita hanya ciptaan, teman. Apapun nasib kita dan seperti apa nantinya Sang Pencipta-lah yang berkuasa atasnya.

“Teman” tangan kanan lebih merendahkan lagi suaranya

“Sang Pencipta-lah yang masih harus kita cari.... kita dan majikan tubuh ini, kita dekati terus sampai kita benar-benar dekat dan tak perlu bertanya, kemudian berserah seserah-serahnya, seserah-serahnya sampai yang paling serah. Kemudian berserah lagi dan lagi. Terus berserah, terus dan terus.......... 

Ayam jago berkokok mengantar fajar terbit di ufuk timur, lentera malam meredup dikalahkan sumber segala energi, sang matahari. Tak ada lagi percakapan, tak ada lagi keluhan. Terlihat dari balik jendela tangan kanan dan tangan kiri saling membantu membersih tubuh sang majikan.

Fikry,
Ciputat
290616






Tidak ada komentar:

Posting Komentar