Ditulis mulai tahun 2002
(karya terbaru ditulis dipaling atas)
Lewati sisi jalan
Bisik-bisik malam terdengar sumbang menceritakan tentang cintanya
(karya terbaru ditulis dipaling atas)
Kau selami kesepian yang tak pernah terusik
Terus dikelilingi langit bisu
Tak ada kata terucap
Tak ada suara terdengar
Jauh mata menatap terlalu dalam terpendam
Harapan berkelit tak kunjung hadir jua
Lewati sisi jalan
Melangkah terus melangkah
Tersengat panas cahaya lebih baik daripada tersengat asmara cinta
Sedang asik merakit mimpi, namun ia pergi begitu saja
Bisik-bisik malam terdengar sumbang menceritakan tentang cintanya
Aku segera bangun menghapus senyumnya
# # #
Telah
lama tak ku dengar suara-suara malam yang dinyanyikan isi kalbu
Menunggunya
diperbatasan malam
Antara
ribuan mimpi yang teringat
Aku
menuduh kepada hati yang menjawab
Memaksa
lidah untuk berucap
Kenyataannya
sang hati terlalu dalam menghayati
Karena
penghayatannya menyatukan dua masa yang berbeda
Ingin
ku kembali namun waktu terlalu banyak berlalu
Ingin
ku hentikan namun banyak yang membutuhkan.....
# # #
Kemana
hendak hati bertanya
Karena
semut pun tak rela mati untuk menyusulmu
Sehelai
rambut tak ada terbayang tentang keelokan indrawi mewakili ketiadaanmu
Halus
tutur bahasa terangkai
Menggambarkan
suasana cinta yang begitu lembut
Makna
belum berbisik tentang kepekaan hati
Jawaban
masih terhanyut oleh waktu
Entah
akan berakhir di liang lahat
Atau
hanya sekejap dan sesaat....
# # #
Mengapa
matahari belum juga muncul
Padahal
sudah waktunya ia hadir
Walau
kadang ia menyebalkan kala siang
Mengapa
rindu itu tak juga datang
Padahal
ia telah ada dalam hati
Walau
ia sering mengganggu pikiran
Ternyata
yang dibutuhkan sesorang bukan sebuah kesempurnaan
Tetapi
satu hal yang membuatnya selalu dirindukan
# # #
Hanya
berbalut jaket hitam
Ku
lewati siang dan malam
Merasakan tetes embun dan hujan
Di
bawah terik matahari ku berbagi perasaan bersama alam
Mencoba
melihat apa yang menyebabkan ia berubah
Di
bawah terang purnama ku ikut berhembus di antara tiupan angin di tengah
belantara
Ternyata
masih ada yang menjaganya
Ku
berpacu di tengah kegelapan
Cahaya-cahaya
yang lewat kadang menyebalkan
Merubah
pandangan dan konsentrasiku
Ku
lewati bising mesin yang memecah sunyi
Bergetar
di atas aspal bergaris putih
Mata
sudah tidak lagi berkompromi
Menahan
kantuk dan hantaman angin malam
Tak
butuh hotel berbintang
Yang
tersedia AC dan kasur yang empuk
Hanya
beralas karpet hitam
Ku
terlelap di Alas Roban
Ada
kesederhanaan di balik kemegahan bukit dan gunung yang berbaris
Wajah-wajah
ayu menyapa dengan senyum yang manis
Bahasa halus meski sedikit tidak ku
mengerti
Ada
keakraban yang hangat meski belum kenal dekat
Mereka
hanya ingin menciptakan kenangan manis untuk
ku bawa pulang sebagai kenangan
Namun
itulah yang membuat kerinduan yang mendalam
Aku
cinta tempat ini tak rela jika dicuri dan disia-siakan
Aku cinta orang-orang ini tak
rela jika ditindas dan disakiti
Memang
tak mudah berada di puncak
Jalan
berkelok dan jurang tinggi siap menelan
Namun
ketika ku sampai di sana
Ada
setengah dari setitik keagunganNya ku lihat
Sawah
terhampar rapih seperti permadani
Pohon-pohon
rindang berjoget bersama angin
Elang
dengan bebasnya terbang mencari makan
Hanya
tercium asap kayu bakar untuk memasak
Bukan
asap pabrik yang meracuni awan dan langit
Ada
banyak cerita di pulau ini
Harum
akan budaya dan keindahan alamnya
Tanah
Lot menjadi tujuan terakhirku dalam perjalanan ini
# # #
Malam...
Aku kembali menyapamu malam ini
Setelah
siang yang mempesona pandanganku
Aku
pergi bersama arus waktu dan hembusan angin
Beberapa
jiwa menemaniku, karena aku tak bisa hidup sendiri
Semua
yang kulihat, hilang malam ini
Kemewahan
dan hiasan dunia hanya ku rasakan sejenak
Malam…
Kadang
aku ragu melihat kebenaran di siang hari
Mata
melihat dengan jelas yang tergambar
Namun
pikiran beradu, mana yang harus ku lihat dan tidak
Kemudian perasaan tersentuh oleh keinginan bertubi-tubi
# # #
Malam
kau rayu aku dengan kesunyian
Tempat
di mana manusia berfikir dan berubah
Malam
kau selalu menceritakan kisah-kisah yang telah terjadi
Tapi tak pernah kau ceritakan apa yang akan terjadi
# # #
Manusia
meminta banyak apa yang ia inginkan
Namun
ketika datang banyak pilihan, tuk memilih pun ia tak sanggup
# # #
Ku
dengar di tepian malam
Nyanyian
para dewi dan lantunan harpa yang dimainkan oleh para malaikat
Memikat
hati dan membuai jiwa yang sepi
Ku
merekam semua nyayiannya
Dengan
harapan ku dapat menyanyikannya kembali saat kau terlelap tidur
# # #
Kesepian
dan kesendirian adalah ruang
Dimana jendela-jendela langit terbuka
Dan
malaikat masuk untuk menceritakan hal-hal yang dirindukan oleh jiwa
Kemudian jiwa itu bangkit melintasi alam yang belum dijelajahinya
# # #
Tubuh
akan rapuh
Jiwa
akan kembali
Dan
nama akan tertulis di batu nisan
Tetapi
tidak untuk sebuah karya dan kebaikan
Apa
yang akan kau lakukan untuk dapat dikenang
Abadi
oleh setiap makhluk
Seperti
orang-orang terdahulu
Buatlah alam bangga karena pernah mengasuh orang sepertimu
# # #
Di
balik langit-langit biru
Dan
di antara dinding angkasa
Terpancar
lembayung sore membelai wajah
Desir
ombak bernyanyi sampai ke hati
Menggetarkan
jiwa yang hampir lupa di mana ia berpijak
Negeri
ini adalah kekasihku
Keindahannya ada pada diriku
# # #
Wahai
malam ku tak sempat titipkan salam kepada mereka yang telah menerimaku
Bukan
karena harta dan keturunan
Tapi
sebuah ikatan yang tak sempat ku jelaskan
Wahai
malam Kami telah mengukir hari-hari dunia
Menapak
tanpa batas walau kadang diantara kami ada yang tertinggal
Wahai
malam kabarkanlah kepada mimpi, bahwa ku menunggunya saat ini
Ku merindukannya yang tak sempt ku temui malam ini
# # #
Adakah
kau dengar malam ini kecuali rintik hujan
Butir
kasih sayangNya tak pernah sempat terhitung
Menghidupi
mahkluk yang dijaganya untuk tetap bertahan
Rintik
itu melahirkan kehidupan
Kehidupan
baru yang didengar
Bersama kalimat haru dan harapan
# # #
Aku
adalah pintu, di mana saat kau buka, kau akan melihat apa yang ada di dalamnya
Aku
adalah atap, saat bocor kau akan menambalnya
Aku
adalah tembok di mana kau dapat menyandarkan tubuhmu
Aku
adalah kertas, saat kau gundah, menulis apa yang kau rasakan
Aku adalah ingatan saat kau lupa, mengingat namaku
# # #
Gerimis
membasahi dataran yang kering
Barisan
pepohonan riang sambil berjoget gemulai
Menyambut
air yang turun dari surga
Angin
pun sibuk bertiup menyampaikan kabar gembiranya
Rombongan
katak pergi ke tepian sungai
Menyanyikan
syair-syair alam
Mereka
pujangga yang tak dapat diartikan
Namun terbukti, alampun hening tuk mendengarnya
# # #
Saat
mata ditutupi kesibukan,
nurani
yang hendak berkata kadang terabaikan
berilah
sedikit ruang untuk tertawa dan bahagia
Istirahatlah
saat kau lelah
Dan tidurlah dengan hati yang tentram
# # #
Biarkan
malam menutup matamu
Memanjakan
tubuh lelahmu
Dan
menenangkan keruh pikiranmu
Tidurlah
dan kembali padaNya untuk sementara
Agar
kita sadar..
Saat mati nanti tak ada yang bisa dilakukan
# # #
Hadir
dalam kekhilafanku
Senyum
dalam kegembiraanku
Menggenggam
dalam kelemahanku
Menyapa
dalam kesombonganku
Merangkul
dalam ketakutanku
Dan
membina dalam kebodohanku
Kau selalu ada...
# # #
Hanyutkanlah
dirimu dalam malam yang berjalan
Biarkan
organ-organ tubuhmu melemas
Mencari
letak keletihan
Selamat
mengukir mimpi dan terbang ke dimensi
Yang berada dalam imaji khayalmu
# # #
Ku
tak sanggup melawan rayuan malam yang menggoda
Seakan
memeluk jiwa ku yang lelah
Dan
menyentuh tubuh ku yang dingin
Ada
nyanyian terdengar menenangkan jiwaku
Suara
itu semakin jelas terdengar, semakin cepat menghilang
Keramaian
itu semakin lama hening
Terang
itu semakin lama meredup
dan mimpi itu semakin lama adanya
# # #
Dunia
telah menunjukan kesombongannya
Tetapi
alam selalu merunduk kesakitan
Manusia
berbondong-bondong untuk menunjukan egonya
Tetapi
ilmu merunduk dalam ketinggiannya
Alam
subur selalu mengayomi makluk yang diasuhnya
Tetapi
manusia pintar merusak apa yang diajarkannya
Alam
selalu berusaha untuk tumbuh kembali
Tetapi
manusia tumbuh untuk merusaknya
Dunia
telah menunjukan kesombongannya
Tetapi
alam selalu merunduk kesakitan
Manusia
berbondong-bondong untuk menunjukan egonya
Tetapi
ilmu merunduk dalam ketinggiannya
Ilmu tak pernah salah
# # #
Aku
bukan kebahagiaan, saat kau sedih ada di sebelahmu
Aku
bukan kekuatan, saat kau lemah meraih tanganmu
Aku
bukan dongeng saat kau lelah menyenyakkan tidurmu
Aku
hanya puing berserakan tak berharga di hamparan pasir pantai
Kemudian dengan bijak kau ambil untuk kau jadikan teman
# # #
to be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar