Kamis, 18 April 2013

Rintik Hujan, Gelap dan Duka





Sudah dua minggu tubuhnya terkapar tidak berdaya, nafasnya tersendat-sendat seperti terhalangi benda keras di kedua lubang hidungnya, sesekali ia meremas tangan isterinya yang selalu menemani setiap waktu, entah apa yang ia rasakan ketika itu terjadi. Mungkin rasa sakit, rasa takut atau penyesalan yang mengawang-ngawang. Di luar para tetangga dan kerabat tak henti-hentinya berdatangan, menunjukkan rasa duka dan keprihatinan mereka dengan konsidi yang dialaminya. Di sudut yang lain, beberapa orang membaca Surat Yasin saling bergantian, tak ada yang menyuruh mereka dan tak ada pula yang meminta mereka untuk membaca Surat tersebut.

“Sudah dekat”. Kata Pak Adi. Beliau adalah tokoh masyarakat setempat dan juga seorang Kyai. Mulya hanya memanggut, ia tak kuasa jika sebentar lagi bapaknya akan dijemput oleh Sang Pencipta.

Aku sudah sangat mengenal suasana ini. Firasat, kesedihan, air mata, histeris dan kehilangan. Rasa ketika orang yang sangat disayangi merintih menahan sakit, meremas tangan dengan sangat kencang, melihat bibir yang ingin berucap namun tak ada suara yang keluar, mendengar jeritan dan tangisan, melihat mata yang memerah hingga tak ada lagi air mata yang keluar. Wajah-wajah muram, senyum yang berduka, keibaan, kata-kata motivasi dan lantuan doa yang menyejukkan.

# # # #

Sudah tiga hari ini rintik hujan membasahi desa kami, hujan yang tidak begitu besar dan tidak pula kecil. Hujan yang hanya sekilas kemudian berhenti dan tidak lama kemudian hujan turun lagi. Selama itu pula Kumang mengongong setiap malam, entah apa penyebabnya karena hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Kata Mbah Darji orang yang dikenal sebagai paranormal. “Tidak hanya orang saja yang akan kehilangan si Mul (panggilan akrab Pak Mulyadi karena umur mereka sepantaran) tapi alam dan binatang akan merasakan hal yang sama”. Aku langsung merinding mendengarnya, karena mengingat sesosok lelaki tua bertubuh kecil, suaranya yang tak pernah mengalahkan suara lawan bicaranya, hidup bersahaja dan baik pada siapapun dan apapun. Beliau tidak lain adalah Pak Mulyadi.

Bagiku terlalu banyak hal yang sudah aku alami bersamanya, karena selain aku tinggal bersebelahan dengan rumahnya, beliau adalah guru ngajiku yang sudah mengantarkanku sampai khatam Al-quran. Aku hanya ingin mengenang bagian yang paling tak terlupakan.

# # # #

Pak Mulyadi adalah seorang yang menyayangi bintang, di rumahnya terdapat banyak kucing. Setiap pagi, siang dan sore beliau meracik makanan untuk kucing peliharaannya, nasi dan tulang ikan beliau aduk hingga menyatu, ketika kegitan ini berlangsung kucing-kucing peliharaanya sudah parkir di tempatnya masing-masing, kepala mereka menenggak melihat gerak tangan Pak Mul, ada yang mondar-mandir menunggu, ada yang mengecap-ngecap lidah dan ada yang merayu dengan meyentuhkan kepalanya ke kaki Pak Mul dan ketika itu terjadi ia berkata “Haha, kamu merayu saya yah?”. Tidak lama berselang makanan ditaruh, puluhan kucing  langsung menyantap makanan yang sudah mereka tunggu. Semua kucing milik Pak Mul tidak ada yang dekil dan kutuan, mereka semua bersih. Tak ada satupun yang terlihat kurang gizi, semuanya gemuk dan lincah-lincah. Seumur hidupku belum pernah melihat Pak Mul marah pada kucing-kucing peliharaannya, menyiksa atau menelantarkannya dan akibatnya mereka semua nurut pada Pak Mul. Sekali saja Pak Mul bersuara “Hush” pada salah satu kucingnya yang mengganggu atau ingin mencuri makanan, mereka langsung pergi mengurung niatnya. Jika Pak Mul sedang memanja salah satu kucingnya, yang lain terlihat seperti iri dan duduk dihadapan Pak Mul menunggu giliran untuk dimanja. 

Selain kucing Pak Mul juga memelihara anjing. Suatu ketika desa kami gempar dengan kemunculan anjing hitam di pos kamling. Mengapa desa kami gempar? Di desaku belum ada sejarah yang menceritakan ada penduduk yang memelihara anjing, seluruh penduduk desaku beragama islam dan bagi seorang muslim air liur anjing itu najis, beberapa yang lain beranggapan memelihara anjing menjauhkan dari keberkahan. Beberapa orang mencoba menangkapnya tapi bukan untuk dipelihara melainkan untuk dibuang sejauh mungkin. Niat buruk para warga tercium oleh sang anjing akibatnya, anjing tersebut menjadi liar, jika ada yang ingin menangkapnya ia langsung menggonggong dengan posisi siap menyerang, tidak seorangpun berhasil menangkapnya. Sampai suatu saat dan untuk kedua kalinya desaku gempar. Mengapa?. 

Sore-sore saat beberapa pemuda dan orang tua asik ngobrol sambil menikmati ubi rebus, kopi hitam dan juga rokok kretek di teras rumah, beberapa anak kecil berlarian dalam permainan dan ibu-ibu ngerumpi sambil sesekali tertawa. Mereka tercengang melihat anjing yang menggemparkan desaku jalan berbarengan dengan Pak Mul, seketika kegiatan mereka terhenti. Pandangan mereka tertuju pada Pak Mul dan anjing tersebut. 

Selepas Sholat Magrib beberapa penduduk yang tidak suka dengan kehadiran anjing mendatangi rumah Pak Mul. 

“Pak Mul anjingnya saya buang aja yah”.

“Iya Pak, anjingkan najis”.

“Belum lagi nanti ada penduduk yang diserang”. Pak Mul masih belum merespon. 
Kemudian.

“Anjing juga mahluk ciptaan Tuhan, kenapa kalian membencinya. Anjing yang najis itu anjing yang dekil, kotor, budukkan dan mulutnya selalu berliur. Kalau yang ini kan enggak” jawab Pak Mul dengan nada rendah.

“Tapi kan liar Pak. Galak lagi”.

“Dia galak karena kemarin kalian ingin berniat jahat dengannya”. Beberapa saat kemudian datang Pak RT dan Pak Adi. Kedatangan mereka pun untuk menyatakan rasa keberatan akan kehadiran anjing di desa.    
             
Karena merasa banyak orang yang tidak setuju, akhirnya Pak Mul legowo untuk tidak memelihara anjing dan besok pagi ia akan membawanya keluar jauh dari desa agar tidak kembali lagi. Keesokkan harinya selepas sholat Shubuh aku diajak Pak Mul membawa anjing tersebut. Sambil menumpang truk milik Pak Daud kami membawanya keluar desa. 

Selang sehari desa kami merasa lega karena anjing yang tidak diinginkan kehadirannya sudah dibuang, tiba-tiba anjing itu muncul lagi di rumah Pak Mul. Untuk kedua kalinya para warga mendatangi rumah Pak Mul.

“Saya juga tidak tahu kenapa anjing ini datang lagi ke rumah saya” jawab Pak Mul dihadapan para warga.

“Bapak buangnya kurang jauh mungkin?”. Duga salah seorang warga. Setelah beberapa percakapan berlangsung akhirnya mereka sepakat untuk membuangnya lebih jauh. Kali ini aku tidak ikut membuang anjing tersebut melainkan Pak Mul dan beberapa orang dewasa.

Selang dua hari pembuangan anjing tersebut, kembali desa kami geger. Anjing yang sudah dibuang sangat jauh dari desa datang lagi ke rumah Pak Mul. Semua kepala geleng-geleng tidak percaya, akhirnya masyarakat desa berbalik legowo namun dengan syarat. Jika anjing tersebut melukai warga maka anjing tersebut akan dibuang sejauh mungkin bahkan akan dijual ke pasar anjing yang biasa menjual daging anjing. Setelah kesepakatan itu maka resmilah anjing tersebut menjadi keluarga Pak Mul. 

Kumang, nama yang diberi oleh Pak Mul, dengan cepat anjing itu menjadi penurut, setiap malam selalu stand by di gapura masuk desa kami ikut berjaga-jaga bersama petugas ronda. Kini Kumang bukan lagi milik Pak Mul melainkan milik desa kami, kehadirannya banyak membantu warga terutama kala ada serangan babi hutan. 

# # # #

Setiap hari Pak Mul mengarit rumput, daun jagung dan kadang daun nangka muda untuk makanan hewan ternak yang ia urus. Ia bukan pemilik ternak tersebut melainkan hanya sebagai pengurus. Tentu saja ternak itu milik juragan ternak yang masyhur di desa kami, Pak Salim namanya. Ketika kebutuhan makanan ternak yang ia urus sudah terpenuhi, ia kembali mencari rumput untuk dijual ke tempat lain sebagai penghasilan tambahan. Hampir seluruh penduduk yang memiliki ternak merasa dibantu oleh Pak Mul, selain tugas mereka jadi ringan Pak Mul juga terkenal apik dalam bekerja. Pak Mul juga dikenal sebagai dokter hewan khususnya ternak, walau tidak pernah kuliah di fakultas kedokteran, tapi ia mahir walau hanya mengandalkan naluri. Ketika ada sapi atau kerbau yang ingin melahirkan, Pak Mul-lah satu-satunya orang yang dipanggil untuk membantu tentunya bersamaku sebagai asisten mudanya. Setiap hewan yang ia rawat ia beri nama, tanpa sepengetahuan pemiliknya. Jadi setiap kali ia mengunjungi kandang ia pasti mengabsen satu persatu.

Idul Adha tiba, beberapa hewan kurban sudah siap dipotong. Saat itu kami mendapat sepuluh ekor kambing dan domba, satu ekor kerbau dan satu ekor sapi jantan yang bertubuh tambun pemberian dari Pak Salim. Setelah keliling rumah warga dan makan ketupat tentunya, para warga berduyun-duyun datang ke halaman masjid. Menyaksikan hewan kurban yang di sembelih, dikuliti dan dipotong hingga cukup untuk di masukkan ke kantung plastik. Satu persatu kambing dan domba disembelih, merah darah menyatu bersama tanah begitupun bau anyir yang terhembus oleh sepoi angin. Untuk kerbau biasanya dibutuhkan lima sampai tujuh orang untuk menaklukkannya, setiap kaki diikat dan kemudian dijatuhkan secara paksa. Rintihan kerbau yang kesakitan tidak membuat iba para algojo. Kemudian golok yang sudah diasah setajam mungkin pun menggorok leher kerbau hingga mati. 

Lantunan takbir tak henti-hentinya mengiringi proses kurban, sebagai penenang jiwa dan pengakuan bahwa tak ada yang lebih besar, tak ada sekutu, melainkan hanya satu yang Maha Esa. Tibalah saatnya hewan terkahir yang belum disembelih, mengapa sapi pemberian Pak Salim diterakhirkan. Selain membutuhkan banyak orang untuk menaklukkannya, sapi tersebut susah untuk didekati, beberapa orang yang mencoba mengikat tali di kakinya selalu gagal akibat respon dari sapi yang berubah menjadi liar. Berkali-kali sapi tersebut menyeruduk, untung tali yang diikat di lehernya kencang sehingga tidak melukai siapa yang mendekatinya. Hal ini membuat resah warga. Jumlah orang pun ditambah menjadi sepuluh orang, alhasil tidak satupun tali terikat di salah satu kaki sang sapi, kemudian jumlah orang pun ditambah menjadi lima belas orang. Awalnya mereka berhasil mengikat salah satu kakinya, kemudian berlanjut sampai keempat kakinya terikat namun tanpa diduga, sapi itu mengamuk dan beberapa orang yang menarik tali tersebut terpelanting jatuh bahkan ada yang terseruduk tanduk sapi tersebut dan terpaksa dibawa ke mantri. Aku yang melihat kejadian tersebut langsung lari menghampiri Pak Mul yang sedang khusuk takbir di dalam masjid bersama murid-muridnya.

“Pak Mul”. Panggilku sambil menunjuk keluar masjid. Bergegas Pak Mul keluar dan menyaksikan apa yang terjadi.

“Owh, si Bedul”. Nama sapi yang ia berikan. Setiap mata tertuju pada Pak Mul, tatapannya mengisyaratkan bahwa mereka tak sanggup lagi menaklukkan sapi tersebut. Memang Pak Mul tidak ahli dalam menyembelih makanya sejak tadi ia hanya takbir di dalam masjid. Kemudian dengan tenang ia menghampiri sapi tersebut.

“Hati-hati pak” teriak salah seorang warga. Seluruh mata tertuju pada Pak Mul. Harap-harap cemas pun menaungi para warga. Sapi tersebut bulak-balik mengisyaratkan bahwa ia siap menyerang siapapun yang mendekat. Sesekali Pak Mul maju dan mundur menghindari serangan mendadak dari sapi tersebut.

“Dul, dul”. Kata Pak Mul sambil mendekati sapi tersebut. Kemudian Pak Mul mengelus-elus kepala sapi tersebut sekejap sapi itu menjadi tenang. Namun ketegangan belum berakhir, para warga masih khawatir jika ada serang mendadak dari sapi tersebut yang akan melukai Pak Mul. Lama Pak Mul mengelus-elus sapi tersebut, dari kejauhan terlihat Pak Mul seperti sedang berbicara pada sapi itu. Entah apa yang ia ucapkan, mantrakah atau doa-doa yang Pak Mul tahu untuk menaklukkan sapi. Tak lama kemudian, dengan sendirinya sapi itu menurunkan badannya hingga ke tanah, seakan-akan mengetahui apa yang harus ia lakukan. Mengetahui sapi itu sudah jinak salah seorang warga memberi golok pada Pak Mul,  akhirnya dengan tenang sapi tersebut pun bisa di sembelih. Seluruh warga takjub melihat kejadian itu, Pak Mul yang berbadan mungil dan kurus bisa menaklukkan sapi yang beratnya bisa sepuluh kali lipatnya pak Mul, mengalahkan lima belas orang pemuda berbadan kekar, yang jikalau sapi itu menyeruduk Pak Mul bisa terpelanting jauh dan berakibat patah tulang atau lebih parah dari itu. Seluruh warga tepuk tangan seakan kejadian tadi adalah adegan circus.

Sejauh yang ku ketahui, Pak Mul adalah orang yang membantu proses kelahiran Bedul ke muka bumi ini, selama lima tahun Pak Mul yang mengurusnya hingga ia siap untuk disembelih. Jadi mungkin ada kontak batin antara ia dan Bedul, memang terdengar aneh, namun itulah yang terjadi. Setelah itu daging kurban dibagikan oleh panitia kepada seluruh warga, mereka pun berbondong-bondong ke rumah masing-masing. Setelah sholat Ashar tidak ada satupun warga yang keluar rumah mereka asik mengipasi daging kurban yang sudah menjadi sate.

# # # #

Kali ini warga desa kami sedang bermusyawarah untuk membangun jalan, beberapa pejabat desa pun diundang hadir. Dari beberapa opsi mereka menyatakan bahwa pohon kapas, pohon mangga, pohon buni dan pohon mahoni yang menghalangi pembangunan jalan harus ditebang, kalau pun tidak maka jalan menuju desa kami akan sedikit memutar dan tentunya lebih jauh. Hampir seluruh warga menyetujui opsi pertama, yaitu menebang pohon-pohon tersebut, namun tidak dengan Pak Mul. Dengan gayanya yang santun dan suaranya yang rendah ia menyatakan, kalau pohon tersebut ditebang akan berakibat longsor yang akan merusak sawah yang berada dibawahnya. Karena posisi jalan yang akan dibangun lima belas meter lebih tinggi dengan sawah yang ada dibawahnya. Dan kalau terjadi longsor akan memutuskan perairan menuju bidang sawah yang lain, karena tepat dibawahnya ada sungai kecil yang mengairi sawah. Namun apa daya para warga hanya hanya berfikir hal yang instan tanpa memikirkan dampak dan akibatnya. Akhirnya musyawarah tersebut memutuskan untuk tetap menebang pohon-pohon yang menghalangi pembangunan jalan. 

Meski pendapatnya tidak diterima oleh para warga, Pak Mul tetap ikut kerja bakti membersihkan jalan. Namun untuk penebangan pohon ia sama sekali tidak mendekatinya. Ia hanya menatap setiap inci gerjaji yang menggerogoti pohon-pohon yang sedang ditebang. Dahulu dibawahnya adalah tempat yang menjadi tempat istirahat para petani karena teduh. Banyak anak-anak perempuan main masak-masakkan dibawahnya karena teduh, banyak anak laki-laki yang memilih main gundu di bawahnya karena teduh dan banyak warga yang kehujanan menetap di bawahnya karena rindang daunnya. Dan kini adalah awal dari hilangnya pemandangan itu dari desa kami.

Tiga tahun sudah kami menikmati jalan baru, memang ku akui jalan ini memudahkan akses menuju desa kami, ketimbang harus memutar lumayan jauh. Namun kini anak-anak malah bermain di pinggir jalan yang membahayakan keselamatan mereka karena tempat di mana mereka biasa main telah berubah menjadi jalan.

Kali ini hujan sangat lebat tak selebat hari-hari sebelumnya, gemuruh berkali-kali menggelegar di atas langit begitupun riuh angin menerpa atap rumah dan pepohonan. Tak ada seorang pun berani keluar rumah, mereka memilih diam di rumah dan berdoa. Keesokkan paginya, salah seorang warga berteriak “Longsor-longsor”. Sambil berlari memberi tahu warga, mereka pun berduyun-duyun ingin melihat secara langsung. Dan terbukti prediksi Pak Mul tentang longsor benar-benar terjadi. Akibatnya akses menuju desa kami terputus, sungai kecil di bawahnya tertimbun tanah dan memutus perairan ke sawah-sawah.

# # # #

Dalam kesahajaannya Pak Mul mengajarkan untuk saling menghargai sesama mahkluk ciptaan Tuhan. Ia bukan seorang sarjana, tapi ia mengerti bagaimana memperlakukan alam, ia membuka tabir bagaimana manusia dan alam hidup berdampingan dalam harmoni tanpa harus merusaknya. Para kontraktor seharusnya belajar dari Pak Mul, agar mereka tahu apa akibatnya jika pepohonan terus ditebang, perut bumi dibolongi hanya untuk mencari keuntungan, beberapa daerah resapan air ditimbun dan dibangun gedung. Tanah kosong mereka sulap menjadi perumahan, tanah berubah menjadi beton dan pohon berubah menjadi paku bumi. Akibatnya, mobil-mobilan anak kecil tersingkir, menghapus permainan mereka dalam canda tawa keriangan disore hari. Tak ada tempat untuk bermain. Akhirnyanya banyak anak kecil mengenal kata stres diusia dini.      

Pada suatu sore saat belajar mengaji telah usai, Pak Mul pernah memberitahu kami bahwa sebagian dari terjadinya kiamat disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Dan bagiku manusia itu adalah para kontraktor.

Fikry
Waingapu, 06-04-2013     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar