Sudah
dua minggu tubuhnya terkapar tidak berdaya, nafasnya tersendat-sendat seperti
terhalangi benda keras di kedua lubang hidungnya, sesekali ia meremas tangan
isterinya yang selalu menemani setiap waktu, entah apa yang ia rasakan ketika
itu terjadi. Mungkin rasa sakit, rasa takut atau penyesalan yang
mengawang-ngawang. Di luar para tetangga dan kerabat tak henti-hentinya
berdatangan, menunjukkan rasa duka dan keprihatinan mereka dengan konsidi yang
dialaminya. Di sudut yang lain, beberapa orang membaca Surat Yasin saling
bergantian, tak ada yang menyuruh mereka dan tak ada pula yang meminta mereka
untuk membaca Surat tersebut.
“Sudah
dekat”. Kata Pak Adi. Beliau adalah tokoh masyarakat setempat dan juga seorang
Kyai. Mulya hanya memanggut, ia tak kuasa jika sebentar lagi bapaknya akan
dijemput oleh Sang Pencipta.
Aku
sudah sangat mengenal suasana ini. Firasat, kesedihan, air mata, histeris dan
kehilangan. Rasa ketika orang yang sangat disayangi merintih menahan sakit,
meremas tangan dengan sangat kencang, melihat bibir yang ingin berucap namun
tak ada suara yang keluar, mendengar jeritan dan tangisan, melihat mata yang
memerah hingga tak ada lagi air mata yang keluar. Wajah-wajah muram, senyum
yang berduka, keibaan, kata-kata motivasi dan lantuan doa yang menyejukkan.
#
# # #
Sudah
tiga hari ini rintik hujan membasahi desa kami, hujan yang tidak begitu besar
dan tidak pula kecil. Hujan yang hanya sekilas kemudian berhenti dan tidak lama
kemudian hujan turun lagi. Selama itu pula Kumang mengongong setiap malam,
entah apa penyebabnya karena hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Kata Mbah
Darji orang yang dikenal sebagai paranormal. “Tidak hanya orang saja yang akan
kehilangan si Mul (panggilan akrab Pak Mulyadi karena umur mereka sepantaran) tapi
alam dan binatang akan merasakan hal yang sama”. Aku langsung merinding
mendengarnya, karena mengingat sesosok lelaki tua bertubuh kecil, suaranya yang
tak pernah mengalahkan suara lawan bicaranya, hidup bersahaja dan baik pada
siapapun dan apapun. Beliau tidak lain adalah Pak Mulyadi.
Bagiku
terlalu banyak hal yang sudah aku alami bersamanya, karena selain aku tinggal
bersebelahan dengan rumahnya, beliau adalah guru ngajiku yang sudah
mengantarkanku sampai khatam Al-quran. Aku hanya ingin mengenang bagian yang
paling tak terlupakan.
#
# # #
Pak
Mulyadi adalah seorang yang menyayangi bintang, di rumahnya terdapat banyak
kucing. Setiap pagi, siang dan sore beliau meracik makanan untuk kucing
peliharaannya, nasi dan tulang ikan beliau aduk hingga menyatu, ketika kegitan
ini berlangsung kucing-kucing peliharaanya sudah parkir di tempatnya
masing-masing, kepala mereka menenggak melihat gerak tangan Pak Mul, ada yang
mondar-mandir menunggu, ada yang mengecap-ngecap lidah dan ada yang merayu
dengan meyentuhkan kepalanya ke kaki Pak Mul dan ketika itu terjadi ia berkata
“Haha, kamu merayu saya yah?”. Tidak lama berselang makanan ditaruh, puluhan
kucing langsung menyantap
makanan yang sudah mereka tunggu. Semua kucing milik Pak Mul tidak ada yang
dekil dan kutuan, mereka semua bersih. Tak ada satupun yang terlihat kurang
gizi, semuanya gemuk dan lincah-lincah. Seumur hidupku belum pernah melihat Pak
Mul marah pada kucing-kucing peliharaannya, menyiksa atau menelantarkannya dan
akibatnya mereka semua nurut pada Pak Mul. Sekali saja Pak Mul bersuara “Hush”
pada salah satu kucingnya yang mengganggu atau ingin mencuri makanan, mereka
langsung pergi mengurung niatnya. Jika Pak Mul sedang memanja salah satu
kucingnya, yang lain terlihat seperti iri dan duduk dihadapan Pak Mul menunggu
giliran untuk dimanja.
Selain
kucing Pak Mul juga memelihara anjing. Suatu ketika desa kami gempar dengan
kemunculan anjing hitam di pos kamling. Mengapa desa kami gempar? Di desaku
belum ada sejarah yang menceritakan ada penduduk yang memelihara anjing,
seluruh penduduk desaku beragama islam dan bagi seorang muslim air liur anjing
itu najis, beberapa yang lain beranggapan memelihara anjing menjauhkan dari
keberkahan. Beberapa orang mencoba menangkapnya tapi bukan untuk dipelihara melainkan
untuk dibuang sejauh mungkin. Niat buruk para warga tercium oleh sang anjing
akibatnya, anjing tersebut menjadi liar, jika ada yang ingin menangkapnya ia
langsung menggonggong dengan posisi siap menyerang, tidak seorangpun berhasil
menangkapnya. Sampai suatu saat dan untuk kedua kalinya desaku gempar.
Mengapa?.
Sore-sore
saat beberapa pemuda dan orang tua asik ngobrol sambil menikmati ubi rebus,
kopi hitam dan juga rokok kretek di teras rumah, beberapa anak kecil berlarian
dalam permainan dan ibu-ibu ngerumpi sambil sesekali tertawa. Mereka tercengang
melihat anjing yang menggemparkan desaku jalan berbarengan dengan Pak Mul,
seketika kegiatan mereka terhenti. Pandangan mereka tertuju pada Pak Mul dan
anjing tersebut.
Selepas
Sholat Magrib beberapa penduduk yang tidak suka dengan kehadiran anjing
mendatangi rumah Pak Mul.
“Pak
Mul anjingnya saya buang aja yah”.
“Iya
Pak, anjingkan najis”.
“Belum
lagi nanti ada penduduk yang diserang”. Pak Mul masih belum merespon.
Kemudian.
“Anjing
juga mahluk ciptaan Tuhan, kenapa kalian membencinya. Anjing yang najis itu
anjing yang dekil, kotor, budukkan dan mulutnya selalu berliur. Kalau yang ini
kan enggak” jawab Pak Mul dengan nada rendah.
“Tapi
kan liar Pak. Galak lagi”.
“Dia
galak karena kemarin kalian ingin berniat jahat dengannya”. Beberapa saat
kemudian datang Pak RT dan Pak Adi. Kedatangan mereka pun untuk menyatakan rasa
keberatan akan kehadiran anjing di desa.
Karena
merasa banyak orang yang tidak setuju, akhirnya Pak Mul legowo untuk tidak
memelihara anjing dan besok pagi ia akan membawanya keluar jauh dari desa agar
tidak kembali lagi. Keesokkan harinya selepas sholat Shubuh aku diajak Pak Mul
membawa anjing tersebut. Sambil menumpang truk milik Pak Daud kami membawanya
keluar desa.
Selang
sehari desa kami merasa lega karena anjing yang tidak diinginkan kehadirannya
sudah dibuang, tiba-tiba anjing itu muncul lagi di rumah Pak Mul. Untuk kedua
kalinya para warga mendatangi rumah Pak Mul.
“Saya
juga tidak tahu kenapa anjing ini datang lagi ke rumah saya” jawab Pak Mul
dihadapan para warga.
“Bapak
buangnya kurang jauh mungkin?”. Duga salah seorang warga. Setelah beberapa
percakapan berlangsung akhirnya mereka sepakat untuk membuangnya lebih jauh.
Kali ini aku tidak ikut membuang anjing tersebut melainkan Pak Mul dan beberapa
orang dewasa.
Selang
dua hari pembuangan anjing tersebut, kembali desa kami geger. Anjing yang sudah
dibuang sangat jauh dari desa datang lagi ke rumah Pak Mul. Semua kepala
geleng-geleng tidak percaya, akhirnya masyarakat desa berbalik legowo namun
dengan syarat. Jika anjing tersebut melukai warga maka anjing tersebut akan
dibuang sejauh mungkin bahkan akan dijual ke pasar anjing yang biasa menjual
daging anjing. Setelah kesepakatan itu maka resmilah anjing tersebut menjadi
keluarga Pak Mul.
Kumang,
nama yang diberi oleh Pak Mul, dengan cepat anjing itu menjadi penurut, setiap
malam selalu stand by di gapura masuk desa kami ikut
berjaga-jaga bersama petugas ronda. Kini Kumang bukan lagi milik Pak Mul
melainkan milik desa kami, kehadirannya banyak membantu warga terutama kala ada
serangan babi hutan.
#
# # #
Setiap
hari Pak Mul mengarit rumput, daun jagung dan kadang daun nangka muda untuk
makanan hewan ternak yang ia urus. Ia bukan pemilik ternak tersebut melainkan
hanya sebagai pengurus. Tentu saja ternak itu milik juragan ternak yang masyhur
di desa kami, Pak Salim namanya. Ketika kebutuhan makanan ternak yang ia urus
sudah terpenuhi, ia kembali mencari rumput untuk dijual ke tempat lain sebagai
penghasilan tambahan. Hampir seluruh penduduk yang memiliki ternak merasa
dibantu oleh Pak Mul, selain tugas mereka jadi ringan Pak Mul juga terkenal
apik dalam bekerja. Pak Mul juga dikenal sebagai dokter hewan khususnya ternak,
walau tidak pernah kuliah di fakultas kedokteran, tapi ia mahir walau hanya
mengandalkan naluri. Ketika ada sapi atau kerbau yang ingin melahirkan, Pak
Mul-lah satu-satunya orang yang dipanggil untuk membantu tentunya bersamaku
sebagai asisten mudanya. Setiap hewan yang ia rawat ia beri nama, tanpa
sepengetahuan pemiliknya. Jadi setiap kali ia mengunjungi kandang ia pasti
mengabsen satu persatu.
Idul
Adha tiba, beberapa hewan kurban sudah siap dipotong. Saat itu kami mendapat
sepuluh ekor kambing dan domba, satu ekor kerbau dan satu ekor sapi jantan yang
bertubuh tambun pemberian dari Pak Salim. Setelah keliling rumah warga dan
makan ketupat tentunya, para warga berduyun-duyun datang ke halaman masjid.
Menyaksikan hewan kurban yang di sembelih, dikuliti dan dipotong hingga cukup
untuk di masukkan ke kantung plastik. Satu persatu kambing dan domba
disembelih, merah darah menyatu bersama tanah begitupun bau anyir yang
terhembus oleh sepoi angin. Untuk kerbau biasanya dibutuhkan lima sampai tujuh
orang untuk menaklukkannya, setiap kaki diikat dan kemudian dijatuhkan secara
paksa. Rintihan kerbau yang kesakitan tidak membuat iba para algojo. Kemudian
golok yang sudah diasah setajam mungkin pun menggorok leher kerbau hingga
mati.
Lantunan
takbir tak henti-hentinya mengiringi proses kurban, sebagai penenang jiwa dan
pengakuan bahwa tak ada yang lebih besar, tak ada sekutu, melainkan hanya satu
yang Maha Esa. Tibalah saatnya hewan terkahir yang belum disembelih, mengapa
sapi pemberian Pak Salim diterakhirkan. Selain membutuhkan banyak orang untuk
menaklukkannya, sapi tersebut susah untuk didekati, beberapa orang yang mencoba
mengikat tali di kakinya selalu gagal akibat respon dari sapi yang berubah
menjadi liar. Berkali-kali sapi tersebut menyeruduk, untung tali yang diikat di
lehernya kencang sehingga tidak melukai siapa yang mendekatinya. Hal ini
membuat resah warga. Jumlah orang pun ditambah menjadi sepuluh orang, alhasil
tidak satupun tali terikat di salah satu kaki sang sapi, kemudian jumlah orang
pun ditambah menjadi lima belas orang. Awalnya mereka berhasil mengikat salah
satu kakinya, kemudian berlanjut sampai keempat kakinya terikat namun tanpa
diduga, sapi itu mengamuk dan beberapa orang yang menarik tali tersebut
terpelanting jatuh bahkan ada yang terseruduk tanduk sapi tersebut dan terpaksa
dibawa ke mantri. Aku yang melihat kejadian tersebut langsung lari menghampiri
Pak Mul yang sedang khusuk takbir di dalam masjid bersama murid-muridnya.
“Pak
Mul”. Panggilku sambil menunjuk keluar masjid. Bergegas Pak Mul keluar dan
menyaksikan apa yang terjadi.
“Owh,
si Bedul”. Nama sapi yang ia berikan. Setiap mata tertuju pada Pak Mul,
tatapannya mengisyaratkan bahwa mereka tak sanggup lagi menaklukkan sapi
tersebut. Memang Pak Mul tidak ahli dalam menyembelih makanya sejak tadi ia
hanya takbir di dalam masjid. Kemudian dengan tenang ia menghampiri sapi
tersebut.
“Hati-hati
pak” teriak salah seorang warga. Seluruh mata tertuju pada Pak Mul. Harap-harap
cemas pun menaungi para warga. Sapi tersebut bulak-balik mengisyaratkan bahwa
ia siap menyerang siapapun yang mendekat. Sesekali Pak Mul maju dan mundur
menghindari serangan mendadak dari sapi tersebut.
“Dul,
dul”. Kata Pak Mul sambil mendekati sapi tersebut. Kemudian Pak Mul
mengelus-elus kepala sapi tersebut sekejap sapi itu menjadi tenang. Namun
ketegangan belum berakhir, para warga masih khawatir jika ada serang mendadak
dari sapi tersebut yang akan melukai Pak Mul. Lama Pak Mul mengelus-elus sapi
tersebut, dari kejauhan terlihat Pak Mul seperti sedang berbicara pada sapi
itu. Entah apa yang ia ucapkan, mantrakah atau doa-doa yang Pak Mul tahu untuk
menaklukkan sapi. Tak lama kemudian, dengan sendirinya sapi itu menurunkan
badannya hingga ke tanah, seakan-akan mengetahui apa yang harus ia lakukan.
Mengetahui sapi itu sudah jinak salah seorang warga memberi golok pada Pak Mul, akhirnya dengan tenang sapi
tersebut pun bisa di sembelih. Seluruh warga takjub melihat kejadian itu, Pak
Mul yang berbadan mungil dan kurus bisa menaklukkan sapi yang beratnya bisa
sepuluh kali lipatnya pak Mul, mengalahkan lima belas orang pemuda berbadan
kekar, yang jikalau sapi itu menyeruduk Pak Mul bisa terpelanting jauh dan
berakibat patah tulang atau lebih parah dari itu. Seluruh warga tepuk tangan
seakan kejadian tadi adalah adegan circus.
Sejauh
yang ku ketahui, Pak Mul adalah orang yang membantu proses kelahiran Bedul ke
muka bumi ini, selama lima tahun Pak Mul yang mengurusnya hingga ia siap untuk
disembelih. Jadi mungkin ada kontak batin antara ia dan Bedul, memang terdengar
aneh, namun itulah yang terjadi. Setelah itu daging kurban dibagikan oleh
panitia kepada seluruh warga, mereka pun berbondong-bondong ke rumah
masing-masing. Setelah sholat Ashar tidak ada satupun warga yang keluar rumah
mereka asik mengipasi daging kurban yang sudah menjadi sate.
#
# # #
Kali
ini warga desa kami sedang bermusyawarah untuk membangun jalan, beberapa
pejabat desa pun diundang hadir. Dari beberapa opsi mereka menyatakan bahwa
pohon kapas, pohon mangga, pohon buni dan pohon mahoni yang menghalangi pembangunan
jalan harus ditebang, kalau pun tidak maka jalan menuju desa kami akan sedikit
memutar dan tentunya lebih jauh. Hampir seluruh warga menyetujui opsi pertama,
yaitu menebang pohon-pohon tersebut, namun tidak dengan Pak Mul. Dengan gayanya
yang santun dan suaranya yang rendah ia menyatakan, kalau pohon tersebut
ditebang akan berakibat longsor yang akan merusak sawah yang berada dibawahnya.
Karena posisi jalan yang akan dibangun lima belas meter lebih tinggi dengan
sawah yang ada dibawahnya. Dan kalau terjadi longsor akan memutuskan perairan
menuju bidang sawah yang lain, karena tepat dibawahnya ada sungai kecil yang
mengairi sawah. Namun apa daya para warga hanya hanya berfikir hal yang instan
tanpa memikirkan dampak dan akibatnya. Akhirnya musyawarah tersebut memutuskan
untuk tetap menebang pohon-pohon yang menghalangi pembangunan jalan.
Meski
pendapatnya tidak diterima oleh para warga, Pak Mul tetap ikut kerja bakti
membersihkan jalan. Namun untuk penebangan pohon ia sama sekali tidak
mendekatinya. Ia hanya menatap setiap inci gerjaji yang menggerogoti
pohon-pohon yang sedang ditebang. Dahulu dibawahnya adalah tempat yang menjadi
tempat istirahat para petani karena teduh. Banyak anak-anak perempuan main
masak-masakkan dibawahnya karena teduh, banyak anak laki-laki yang memilih main
gundu di bawahnya karena teduh dan banyak warga yang kehujanan menetap di
bawahnya karena rindang daunnya. Dan kini adalah awal dari hilangnya
pemandangan itu dari desa kami.
Tiga
tahun sudah kami menikmati jalan baru, memang ku akui jalan ini memudahkan
akses menuju desa kami, ketimbang harus memutar lumayan jauh. Namun kini
anak-anak malah bermain di pinggir jalan yang membahayakan keselamatan mereka
karena tempat di mana mereka biasa main telah berubah menjadi jalan.
Kali
ini hujan sangat lebat tak selebat hari-hari sebelumnya, gemuruh berkali-kali
menggelegar di atas langit begitupun riuh angin menerpa atap rumah dan
pepohonan. Tak ada seorang pun berani keluar rumah, mereka memilih diam di
rumah dan berdoa. Keesokkan paginya, salah seorang warga berteriak
“Longsor-longsor”. Sambil berlari memberi tahu warga, mereka pun berduyun-duyun
ingin melihat secara langsung. Dan terbukti prediksi Pak Mul tentang longsor
benar-benar terjadi. Akibatnya akses menuju desa kami terputus, sungai kecil di
bawahnya tertimbun tanah dan memutus perairan ke sawah-sawah.
#
# # #
Dalam
kesahajaannya Pak Mul mengajarkan untuk saling menghargai sesama mahkluk
ciptaan Tuhan. Ia bukan seorang sarjana, tapi ia mengerti bagaimana
memperlakukan alam, ia membuka tabir bagaimana manusia dan alam hidup
berdampingan dalam harmoni tanpa harus merusaknya. Para kontraktor seharusnya
belajar dari Pak Mul, agar mereka tahu apa akibatnya jika pepohonan terus
ditebang, perut bumi dibolongi hanya untuk mencari keuntungan, beberapa daerah
resapan air ditimbun dan dibangun gedung. Tanah kosong mereka sulap menjadi
perumahan, tanah berubah menjadi beton dan pohon berubah menjadi paku bumi.
Akibatnya, mobil-mobilan anak kecil tersingkir, menghapus permainan mereka
dalam canda tawa keriangan disore hari. Tak ada tempat untuk bermain.
Akhirnyanya banyak anak kecil mengenal kata stres diusia dini.
Pada
suatu sore saat belajar mengaji telah usai, Pak Mul pernah memberitahu kami
bahwa sebagian dari terjadinya kiamat disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Dan
bagiku manusia itu adalah para kontraktor.
Fikry
Waingapu,
06-04-2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar